Focus Group Discussion

Aktivitas FFP dan FFD di AFF

Aktivitas FFP dan FFD di AFF

Dalam rangka PraAceh Film Festival 2025, Aceh Documentary menggelar beberapa kegiatan untuk mendukung AFF 2025, awal September mendatang. Festival Film Purbalingga (FFP) dan Festival Film Dokumenter (FFD) pada Senin-Kamis, 14-17 April 2025.

Founder Aceh Documentary Jamaluddin Ponna mengatakan, agenda penting kehadiran FFP dan FFD di AFF untuk melakukan Focus Group Discussion (FGD) yang membahas beberapa hal penting, pada Selasa malam, 15 April 2025. “Salah satu bahasannya bagaimana nasib perfilman pelajar. Kami saling bertukar pengalaman dan saling memberi masukan,” ujar Jamal.

Pada kesempatan itu digelar program Workshop Supervisi Aceh Documentary Competition (ADC) 2025, yaitu nempersiapkan para mentor untuk mendampingi pelajar Aceh dalam memproduksi dokumenter. Workshop digelar pada Selasa pagi, 15 April 2025 dengan pemateri Founder CLC Purbalingga Bowo Leksono.

“Antara Jawa dan Sumatera dalam hal perfilman pelajar pada dasarnya memang banyak kesamaan. Namun saat ini, di Banyumas Raya,

dukungan sekolah bagi pelajar dalam membuat film sangat luar biasa,” tutur Kembang Hati alumni ADC 2023.

Pada Rabu pagi, 16 April 2025 digelar program Brainstorming Bersama peserta ADC 2025 di Gedung Cabang Dinas Pendidikan Aceh. Pada kesempatan itu, brainstrorming setiap kelompok dilakukan dengan FFP dan FFD secara bergantian.

Menurut salah satu peserta brainstorming Dhaifani Az Zahra, banyak masukan bagi kami yang baru pertama di dunia perfilman. “Bagi kami ini tidak hanya berkompetisi antarpelajar di Aceh namun lebih luasnya juga dengan Purbalingga dan daerah lain untuk bertemu di FFD,” ungkap pelajar SMA Negeri 8 Takengon Unggul Aceh Tengah.

Malam harinya, digelar Aceh Documentary Forum (ADF) #7 yaitu pemutaran dan diskusi film Balada Bala Sinema (BBS) sutradara Yuda Kurniawan di Bioskop Mini Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah I Gampong Mulia Aceh. Puluhan penonton yang didominasi anak-anak muda memadati ruang putar.

“Ternyata ada ya komunitas film yang berjuang mati-matian untuk mempertahankan eksistensi perfilman di daerahnya dari awal Reformasi hingga kini. Menarik karena tadi ada pelajar dan guru-guru yang turut mengapresiasi, mereka jadi paham bahwa perfilman di daerah harus diperjuangkan,” tutur salah satu penonton Eka Husnul Hidayati.

Direktur FFP Nanki Nirmanto mengatakan, usai FGD di FFD 2024, digelar FGD di PraAFF 2025, selanjutkan akan diadakan pertemuan di FFP 2025 Juli mendatang. “Kami para penyelenggara festival film yang didalamnya ada kompetisi pelajar, saling bertukar cerita, siasat, dan informasi. Bagaimana ke depan perkembangan produk film pelajar agar tetap berlanjut. Semoga ke depan komunikasi keterlibatan festival film pelajar lebih luas lagi,” ungkapnya.

Program ini terlaksana atas kerjasama Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia (Kemenbud), Dana Indonesiana, dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Berita Lainnya